El Nino Surutkan Air PLTA Sulsel, ESDM Andalkan PLTB Sidrap-Jeneponto

El Nino Surutkan Air PLTA Sulsel, ESDM Andalkan PLTB Sidrap-Jeneponto

ENERGIKITA.COM — Kementerian ESDM mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap dan Jeneponto untuk menutup turunnya pasokan listrik dari PLTA di Sulawesi Selatan dan Kalimantan akibat El Nino. Dua PLTB di Sulawesi Selatan itu beroperasi penuh 24 jam saat musim kemarau, kebalikan dari PLTA yang debit airnya menyusut. Kombinasi kedua jenis pembangkit ini menjadi kunci menjaga keandalan listrik tanpa harus memadamkan pelanggan.

Debit air sungai yang menyusut di musim kemarau membuat produksi listrik dari PLTA menurun, terutama di Sulawesi Selatan dan Kalimantan. Kondisi ini memaksa pemerintah mencari sumber listrik pengganti agar pasokan ke pelanggan PLN tidak terganggu.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyebut penurunan debit air berdampak langsung pada produksi listrik PLTA. Namun, cuaca panas akibat El Nino justru meningkatkan intensitas angin di sejumlah wilayah.

PLTB Sidrap dan Jeneponto Beroperasi Penuh

Dua PLTB yang beroperasi di Sulawesi Selatan, yakni di Sidrap dan Jeneponto, berjalan optimal pada kapasitas penuh selama 24 jam nonstop di tengah El Nino. Eniya mengaku baru mengunjungi kedua pembangkit tersebut.

"Karena pada saat El Nino justru angin itu 24 jam bertiup. Nah, alhamdulillah kita sudah punya dua pembangkit di Sulawesi Selatan, yaitu di Sidrap sama Jeneponto, dua-duanya saya visit kemarin. Semua 24 jam full capacity," ungkap Eniya saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta.

Dari situ, Kementerian ESDM menyimpulkan PLTA perlu dikombinasikan dengan pembangkit angin saat kemarau panjang. "PLTA memang turun. Turun karena berkepanjangan ya. Sekarang sungai-sungai di Kalimantan kan juga surut. Nah, yang saya lihat justru memang adalah PLTB," katanya.

Mengapa Angin Justru Kencang Saat Kemarau

Karakteristik angin di Indonesia punya pola unik. Dalam rentang empat hingga 4,5 bulan, mulai Juni, Juli, Agustus, September, hingga pertengahan Oktober, potensi angin mampu menghasilkan listrik selama 24 jam penuh.

Jendela waktu itu dinilai ideal untuk menambal penurunan kapasitas PLTA. Eniya menyebut kecepatan angin di Indonesia bisa mencapai 31 meter per second, angka yang cukup untuk memutar turbin secara stabil.

Investasi PLTB Belum Bertambah Empat Tahun

Meski pemetaan potensi PLTB dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) mencapai 11 Giga Watt (GW), investasi di sektor energi angin belum bertambah dalam empat tahun terakhir. Potensi itu tersebar di Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, NTT, hingga Maluku.

Untuk menarik minat investor, Kementerian ESDM tengah memproses

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index