ENERGIKITA.COM — Penanaman Modal Asing (PMA) di sektor Industri Logam Dasar, Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya menembus US$14 miliar, melesat dari posisi di bawah US$2 miliar pada 2010. Lonjakan ini menjadi bukti hilirisasi mineral mengubah peta investasi Indonesia. Negara-negara penghasil mineral lain pun mulai melirik strategi serupa.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, membeberkan pergeseran besar itu dalam sosialisasi MediaMIND 2026, Senin (14/9). Data CORE Indonesia menunjukkan sektor logam dasar kini meninggalkan sektor pertambangan, industri kertas dan percetakan, serta transportasi, gudang dan telekomunikasi yang sebelumnya mendominasi PMA.
Ketiga sektor pesaing itu bergerak naik turun sejak 2010 dan kini tidak pernah melewati angka US$8 miliar. Sementara industri logam dasar terus menanjak tanpa henti sejak 2019.
Filipina Mengaku Tak Bisa Menandingi
Kecepatan industrialisasi berbasis mineral Indonesia membuat negara tetangga sesama pemasok nikel iri. Filipina, pemasok nikel terbesar kedua dunia setelah Indonesia, mengakui sulit mengejar jejak hilirisasi Indonesia.
"Filipina tuh sebetulnya ingin mengikuti langkah Indonesia, pathway industrialisasi, hilirisasi Indonesia. Tapi mereka enggak bisa. Dia (pelaku usaha Filipina) bilang bahwa Indonesia tuh terlalu besar dan sudah lebih duluan advanced membangun (ekosistem) industri ini," kata Faisal.
Bukan hanya Filipina. Sejumlah negara Afrika yang juga penghasil mineral disebut ingin meniru langsung pola hilirisasi Indonesia.
"Setiap kali mereka (negara-negara Afrika) bertanya kebijakan apa yang dilakukan Indonesia, ingin langsung copy paste gitu, banyak negara-negara penghasil mineral itu yang memang ingin mengikuti langkah Indonesia," tutur Faisal.
MIND ID Perkuat Ekosistem Hilirisasi
Momentum hilirisasi kian deras setelah MIND ID diperkuat sebagai holding tambang. Pada Juli 2024, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) resmi bergabung, menyusul PT Freeport Indonesia yang lebih dulu masuk pada 2018.
Penguasaan atas nikel, tembaga, dan produk turunannya dinilai bakal memperkuat posisi Indonesia dalam mengatur pasokan serta harga komoditas mineral utama dunia. Ujungnya, penerimaan negara dari sektor ini bisa lebih terjamin.
Perkembangan teknologi ke depan juga membutuhkan bahan baku mineral yang semuanya tersedia di Indonesia. Faisal menyoroti peluang industri bernilai tambah tinggi seperti baterai.
"Dan semestinya kalau industri high-tech-nya yang punya value added lebih tinggi seperti baterai itu bisa bisa berjalan dengan mulus nantinya, mestinya sih value added-nya bisa lebih tinggi lagi. Karena selama ini yang dorong ini tuh yang dorongnya baru dari smelter di hilir," jelasnya.
ICOR Tinggi Jadi PR Berikutnya
Hilirisasi sudah menunjukkan indikator positif. Selain lonjakan investasi, pertumbuhan industri manufaktur dalam beberapa kuartal terakhir lebih tinggi dibanding pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) — tanda pergeseran dari de-industrialisasi menuju re-industrialisasi.
Namun Faisal mengingatkan proses ini masih tahap awal dan perlu diuji konsistensinya. Tantangan utama yang belum teratasi adalah tingginya Incremental Capital Output Ratio (ICOR).
ICOR yang tinggi menandakan investasi belum efisien menghasilkan output. Peningkatan investasi harus mampu mendorong pertumbuhan output lebih besar, menciptakan lapangan kerja formal, dan meningkatkan kualitas produk.
"Once kita bisa mengatasi masalah itu, artinya investasi dikeluarkan, output-nya bisa lebih tinggi. Tapi bukan cuma output, selalu saya bilang kualitasnya juga," kata Faisal.
Bagi pembaca umum, cerita hilirisasi nikel sebenarnya soal sederhana: Indonesia berhenti menjual tanah mentah dan mulai mengolahnya sendiri. Hasilnya terlihat dari uang asing yang masuk, dan negara lain kini belajar dari langkah tersebut.