Studi Ungkap Cuaca Panas Buat Waktu Tidur Malam Banyak Orang Berkurang

Studi Ungkap Cuaca Panas Buat Waktu Tidur Malam Banyak Orang Berkurang
Ilustrasi Tidak Bisa Tidur.

JAKARTA - Pernah merasa sulit memejamkan mata di malam hari atau kerap terbangun akibat gerah? Jika iya, fenomena ini tidak cuma dirasakan oleh Anda.

Laporan terbaru Climate Central berjudul Climate Change is Costing People Sleep menyebutkan bahwa suhu malam yang kian membara akibat perubahan iklim turut memangkas waktu istirahat warga dunia.

Waktu tidur malam yang memadai amat vital demi menjaga kesehatan badan maupun mental. Namun, saat temperatur udara malam hari melonjak, tubuh menjadi makin sukar untuk relaks sehingga kualitas istirahat menurun.

Kajian Climate Central memperlihatkan rata-rata penduduk bumi kehilangan durasi tidur hampir 56 jam tiap tahunnya dipicu suhu malam yang terlampau panas sepanjang kurun 2020-2025.

Dari angka tersebut, sekitar enam jam di antaranya diprediksi merupakan dampak tambahan dari fenomena perubahan iklim yang memicu kenaikan suhu malam hari.

Apabila diakumulasikan, hilangnya waktu istirahat itu setara dengan hampir tujuh malam dalam setahun, dengan satu malam di antaranya berkaitan erat dengan pengaruh fenomena tersebut.

Suhu Panas Merusak Kualitas Tidur Secara alami, tubuh menurunkan suhu intinya saat mendekati waktu tidur. Kala udara malam terasa menyengat, proses alami ini terhambat sehingga seseorang mudah terjaga atau sukar menyentuh fase tidur lelap.

Laporan Climate Central mencatat dampak paling parah terjadi pada kawasan yang sedari awal memiliki temperatur malam cukup tinggi.

Kota-kota di wilayah Timur Tengah mengalami pangkasan waktu tidur paling signifikan akibat perubahan iklim. Selain itu, kawasan di Asia Selatan dan Asia Tenggara juga tergolong area yang terdampak hebat.

Kondisi serupa dialami oleh sejumlah kota besar di Indonesia. Climate Central menaksir penduduk Jakarta, Bekasi, serta Tangerang kehilangan waktu tidur sekitar 84 jam per tahun akibat suhu malam yang menyengat.

Sementara itu, warga Bogor diproyeksikan kehilangan waktu tidur sekitar 75 jam per tahun, dan masyarakat Serang kehilangan hingga 90 jam.

Dari seluruh total hilangnya waktu istirahat tersebut, berkisar 6 sampai 8 jam tiap tahunnya dihubungkan dengan perubahan iklim yang membuat malam kian hangat.

Hasil temuan ini mengindikasikan bahwa dampak buruk malam yang kian menyengat terhadap Kualitas istirahat turut membayangi masyarakat di Tanah Air.

Meskipun cuaca panas dapat mengganggu waktu istirahat publik, kelompok rentan merasakan dampaknya lebih berat. Warga berusia di atas 65 tahun tercatat dua kali lebih rentan mengalami gangguan tidur ketimbang kelompok usia paruh baya.

Di samping kaum lansia, perempuan, warga di negara berpendapatan menengah ke bawah, serta penduduk di wilayah beriklim tropis cenderung menanggung konsekuensi yang lebih besar.

Strategi Menjaga Kualitas Tidur Saat Kerap Gerah Kendati lonjakan suhu malam hari sulit dihindari, terdapat beberapa cara yang bisa diterapkan untuk membantu tubuh tetap nyaman saat beristirahat.

Apabila memungkinkan, nyalakan pendingin ruangan atau kipas agar temperatur kamar tetap sejuk. Walau begitu, pendingin udara bukan satu-satunya solusi mutlak karena suhu malam yang panas tetap berpotensi mengikis kualitas tidur.

Anda dapat mengenakan pakaian tidur beserta sprei dari serat katun atau bahan lain yang berdaya serap keringat tinggi. Pastikan pula sirkulasi udara di dalam kamar bekerja optimal supaya ruangan tidak pengap.

Serta jelang waktu tidur, jauhi aktivitas olahraga berat, porsi makan yang terlampau kenyang, hingga minuman berkafein lantaran bisa mempersulit proses lelap.

Menjaga kondisi kamar tetap sejuk dan menjalankan kebiasaan tidur yang sehat akan membantu Anda memperoleh istirahat yang berkualitas walau cuaca tengah terasa menyengat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index