ENERGIKITA.COM — Sampah organik rumah tangga masih jadi persoalan yang sulit dipecahkan di banyak permukiman. UNISA Yogyakarta menawarkan cara sederhana lewat LOSIDA, alat dari pipa paralon yang ditanam di tanah. Berikut fakta lengkapnya.
Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA Yogyakarta) memperkenalkan Lodong Sisa Dapur (LOSIDA) sebagai alternatif pengolahan sampah organik rumah tangga. Program ini melibatkan mahasiswa baru dan warga di dua padukuhan Sleman. Berikut lima fakta yang perlu kamu tahu.
1. Apa Itu LOSIDA?
LOSIDA adalah singkatan dari Lodong Sisa Dapur, sebuah alat pengolahan sampah organik yang dibuat dari pipa paralon. Pipa ini sebagian ditanam ke dalam tanah, dengan lubang di bagian bawah dan mulut pipa di bagian atas. Sisa dapur dimasukkan lewat bagian atas, lalu dibiarkan terurai alami di dalam tanah hingga menjadi kompos.
2. Sampah Apa Saja yang Bisa Dibuang ke LOSIDA?
Mahasiswa UNISA Yogyakarta, Mutiara Nurhan, menjelaskan bahan yang bisa diolah berasal dari sisa dapur sehari-hari. "Kita ambil dari bahan-bahan sisa dapur. Seperti kupasan bawang atau mungkin sisa makanan, sisa sayuran, sisa buah-buahan. Bisa juga pakai daun-daun kering di sekitar kita," ujarnya. Setelah sampah masuk, pipa ditutup untuk mengurangi bau dan mencegah lalat masuk.
3. 50 Unit Dipasang Bareng 250 Mahasiswa Baru
Sebanyak 50 unit LOSIDA dipasang di Padukuhan Karang Tengah dan Salakan, Kalurahan Nogotirto, Gamping, Sleman, Rabu (16/9). Pemasangan melibatkan 250 mahasiswa baru yang jadi perwakilan peserta Masa Ta'aruf (MATAF) UNISA Yogyakarta. Mereka dibagi ke dalam 50 kelompok, masing-masing terdiri dari lima mahasiswa yang membawa satu LOSIDA untuk dipasang bersama warga.
4. Bukan Program Sekali Jalan
Wakil Rektor III UNISA Yogyakarta, Mufdlilah, menyebut kegiatan ini sebagai langkah awal membangun kepedulian mahasiswa terhadap sampah. "Ini mau menjadi pemula bagi mereka (untuk) mulai peduli. Mereka harus disadarkan bahwa sampah itu perlu dikelola, sampah itu harus dimanfaatkan, sampah itu bukan barang yang sisa tetapi bisa dimanfaatkan," kata Mufdlilah. Inovasi LOSIDA sendiri telah dijalankan UNISA Yogyakarta selama sekitar empat tahun dan rutin melibatkan mahasiswa turun ke masyarakat.
5. Warga Berharap Ada Pendampingan Lanjutan
Ketua RT Padukuhan Karang Tengah, Surahmin, mengakui sampah organik masih jadi masalah yang belum tuntas di wilayahnya. Ia berharap program LOSIDA tidak berhenti setelah pemasangan. "Kami mengharapkan untuk nanti bisa berkesinambungan. Artinya tidak hanya memasang (LOSIDA) pada saat ini, tapi nanti dalam jangka dua atau tiga bulan untuk kita minta untuk tengok, untuk dikaruhke sehingga nanti mudah-mudahan warga itu bisa mengembangkan sendiri LOSIDA tersebut," ujarnya.
LOSIDA menawarkan cara murah dan sederhana untuk mengurangi sampah organik rumah tangga. Dengan pendampingan berkelanjutan, warga Nogotirto berpeluang mengelola sampah dapurnya secara mandiri.