JAKARTA - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin pesat di berbagai sektor industri.
Meski demikian, industri asuransi jiwa dinilai tetap membutuhkan peran manusia dalam memberikan pelayanan kepada nasabah. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia menilai bahwa teknologi belum mampu menggantikan fungsi utama agen asuransi.
Peran Penting Agen Asuransi Bagi Nasabah
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia menilai kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tidak bisa begitu saja menggantikan peran agen asuransi. Agen asuransi dinilai memiliki pendekatan yang lebih personal dalam memahami kebutuhan nasabah. Hubungan yang terjalin antara agen dan nasabah menjadi salah satu faktor penting dalam layanan asuransi.
Direktur Eksekutif AAJI Emira Oepangat menyebut pada dasarnya agen asuransi menerapkan pendekatan yang bisa mengerti soal kebutuhan hidup para nasabah. Dia menilai hal itu juga yang tak bisa digantikan oleh AI. Pendekatan personal tersebut membuat nasabah merasa lebih nyaman dalam merencanakan perlindungan keuangan mereka.
"Kalau sudah asuransi tentu yang benar-benar mengerti soal kebutuhan hidup, melihat secara kebutuhan keseluruhan, serta harus punya trust dan rasa chemistry-nya," kata Emira dalam acara Kompas Talks di Jakarta Selatan.
Menurutnya, hubungan yang dibangun antara agen dan nasabah tidak hanya sekadar transaksi. Ada unsur kepercayaan dan komunikasi yang berlangsung dalam jangka panjang. Hal ini membuat peran agen tetap relevan meskipun teknologi berkembang.
Pendekatan Agen sebagai Perencana Keuangan
Faktor lainnya, Emira juga menyampaikan agen asuransi dibekali kemampuan untuk menjadi perencana keuangan atau financial planner bagi nasabah ke depannya. Melalui peran tersebut, agen tidak hanya menjual produk asuransi. Mereka juga membantu nasabah merencanakan perlindungan keuangan untuk masa depan.
Pendekatan sebagai perencana keuangan membuat agen dapat memberikan rekomendasi produk yang sesuai dengan kebutuhan nasabah. Setiap nasabah memiliki kondisi keuangan yang berbeda, sehingga solusi yang diberikan juga tidak selalu sama. Dalam hal ini, agen berperan sebagai konsultan yang memahami situasi secara menyeluruh.
Dengan pendekatan tersebut, hubungan antara agen dan nasabah menjadi lebih kuat. Nasabah dapat berkonsultasi mengenai berbagai kebutuhan perlindungan finansial. Hal ini menunjukkan bahwa peran agen tidak hanya sekadar menjual polis, tetapi juga memberikan edukasi keuangan.
Peran konsultatif tersebut dinilai sulit digantikan oleh teknologi. Interaksi manusia memberikan ruang diskusi yang lebih mendalam dibandingkan sistem otomatis. Karena itu, agen tetap menjadi elemen penting dalam industri asuransi.
Peran AI sebagai Pendukung Pekerjaan Agen
Meski AI tidak dapat menggantikan peran agen asuransi, teknologi tersebut tetap memiliki manfaat dalam industri ini. Emira mengungkapkan bahwa kecerdasan buatan dapat membantu pekerjaan agen. Teknologi ini dapat digunakan untuk mempermudah analisis data nasabah.
AI dapat membantu agen dalam menganalisis profil nasabah serta menentukan produk yang paling sesuai. Dengan dukungan teknologi, proses analisis menjadi lebih cepat dan akurat. Hal ini membantu agen memberikan rekomendasi yang lebih tepat.
"Selain itu, agen juga dapat menggunakan AI untuk menghitung jumlah uang pertanggungan dan premi yang cocok dengan profil calon nasabah," tuturnya.
Pemanfaatan teknologi ini juga dapat meningkatkan efisiensi kerja agen. Proses administrasi dan perhitungan dapat dilakukan lebih cepat. Dengan demikian, agen dapat lebih fokus pada pelayanan dan komunikasi dengan nasabah.
Tantangan Adopsi Teknologi di Industri Asuransi
Emira menyebut industri asuransi mungkin menjadi salah satu industri yang tidak dapat mengadopsi teknologi, termasuk AI, dengan begitu masif. Hal ini karena produk asuransi memiliki karakter jangka panjang. Banyak polis asuransi yang bahkan berusia lebih dari 30 tahun.
Kondisi tersebut membuat integrasi teknologi baru tidak bisa dilakukan secara instan. Data dan sistem lama harus disesuaikan dengan teknologi modern. Proses ini membutuhkan waktu serta biaya yang tidak sedikit.
Ia menambahkan bahwa tantangan ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Industri asuransi di berbagai negara juga menghadapi situasi yang sama. Karena itu, penerapan teknologi harus dilakukan secara hati-hati.
"Untuk memindahkan data-data itu mengikuti teknologi sekarang, tentu sangat challenging dan mahal. Selain itu, takut data nasabah kalau dipindahkan dengan cepat, bisa saja hilang atau berubah. Ketentuan jualan tahun 1974 sama 2024 bisa tertukar polis ketentuannya, itu bahaya karena asuransi prinsip kehati-hatian," ungkapnya.
Kehati-hatian tersebut penting karena asuransi berkaitan langsung dengan perlindungan finansial masyarakat. Kesalahan data atau informasi dapat menimbulkan risiko besar. Oleh karena itu, setiap perubahan sistem harus dilakukan dengan perencanaan matang.
Peran Agen dalam Industri Asuransi Nasional
Data AAJI menunjukkan bahwa tenaga pemasaran asuransi di Indonesia masih cukup besar. Tercatat sekitar 239.731 tenaga pemasaran memiliki lisensi resmi. Hal ini menunjukkan bahwa profesi agen masih menjadi tulang punggung distribusi produk asuransi.
Melalui kanal distribusi keagenan, industri asuransi mampu mengumpulkan pendapatan premi yang signifikan. Hingga September 2025, kanal ini menyumbang sekitar Rp42,25 triliun. Angka tersebut hanya sedikit menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara keseluruhan, total pendapatan premi industri asuransi jiwa tercatat mencapai Rp133,22 triliun. Capaian tersebut menunjukkan bahwa industri asuransi masih memiliki kontribusi besar bagi sektor keuangan nasional. Peran agen sebagai penghubung antara perusahaan dan nasabah menjadi faktor penting dalam pencapaian tersebut.
Dengan perkembangan teknologi yang semakin cepat, industri asuransi tetap perlu menyeimbangkan inovasi digital dengan pendekatan manusia. Agen asuransi memberikan sentuhan personal yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh sistem otomatis. Kombinasi antara teknologi dan peran manusia diharapkan mampu memperkuat layanan asuransi di masa depan.