Kebijakan Hilirisasi Dorong Pertumbuhan dan Daya Saing Industri Manufaktur Nasional

Selasa, 10 Februari 2026 | 11:50:59 WIB
Kebijakan Hilirisasi Dorong Pertumbuhan dan Daya Saing Industri Manufaktur Nasional

JAKARTA - Kinerja industri manufaktur nasional menunjukkan sinyal penguatan di tengah dinamika ekonomi global. 

Sepanjang 2025, sektor ini mampu mencatat pertumbuhan tertinggi sejak pandemi. Capaian tersebut mencerminkan perubahan struktur industri yang semakin mengarah pada sektor bernilai tambah.

Industri manufaktur Indonesia mencatat pertumbuhan positif, mencapai 5,15% pada 2025, atau tertinggi sejak pandemi Covid-19. Pertumbuhan ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah tantangan sektor padat karya. Proyek hilirisasi menjadi faktor utama yang menopang kinerja tersebut.

Industri Manufaktur 2025 Tumbuh 5,15%, Celios: Ditopang Hilirisasi, Padat Karya Kontraksi menjadi gambaran kondisi struktural industri nasional. Pertumbuhan yang terjadi tidak merata di seluruh subsektor. Sejumlah industri justru mengalami tekanan dan penurunan kinerja.

Logam Dasar dan Mesin Jadi Motor Pertumbuhan

Beberapa subsektor manufaktur mencatat peningkatan produksi yang cukup signifikan sepanjang 2025. Industri logam dasar menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan. Kinerja positif ini erat kaitannya dengan kebijakan hilirisasi pemerintah.

Ekonom Celios Nailul Huda menilai sejumlah industri menunjukkan pertumbuhan produksi signifikan, misalnya industri logam dasar yang tumbuh 15,71% dan industri mesin serta perlengkapan yang naik 13,98%. Lonjakan ini memperlihatkan arah baru struktur industri nasional. Fokus produksi bergeser pada sektor berbasis modal dan teknologi.

“Industri logam dasar meningkat karena program hilirisasi pemerintah, salah satunya nikel. Kita tahu semua industri ini memiliki dampak lingkungan tinggi dan tidak berkelanjutan,” ujar Nailul. Pernyataan tersebut menyoroti tantangan jangka panjang dari strategi hilirisasi. Pertumbuhan dinilai perlu diimbangi keberlanjutan lingkungan.

Impor Mesin Dorong Produksi Industri

Sementara itu, industri mesin dan perlengkapan mencatat pertumbuhan karena dorongan impor yang meningkat. Kebutuhan peralatan produksi menjadi indikator ekspansi sektor tertentu. Hal ini menunjukkan aktivitas investasi yang masih berlangsung.

Industri mesin dan perlengkapan tumbuh positif karena didorong oleh impor mesin yang meningkat sepanjang 2025. Merujuk data Badan Pusat Statistik, impor mesin dan perlengkapan elektrik mengalami kenaikan signifikan. Lonjakan impor mencerminkan kebutuhan peningkatan kapasitas produksi.

Impor mesin dan perlengkapan elektrik (HS85) naik 17,22% menjadi US$31,88 miliar sepanjang Januari–Desember 2025. Secara volume, impor meningkat 25,44% menjadi 2,20 juta ton. Sementara itu, impor mesin dan peralatan mekanis (HS84) naik 7,75% menjadi US$36,64 miliar.

Sektor Padat Karya Justru Tertekan

Di sisi lain, pertumbuhan industri tidak sepenuhnya berdampak positif terhadap sektor padat karya. Sejumlah subsektor yang menyerap banyak tenaga kerja justru mengalami kontraksi. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap penyerapan tenaga kerja.

“Kedua sektor ini juga bukan sektor padat karya. Justru industri padat karya mengalami penurunan, seperti industri kayu, karet, dan alat angkutan,” tutur Nailul. Pernyataan ini menegaskan ketimpangan pertumbuhan antarsektor. Dampak sosial menjadi perhatian utama.

Berdasarkan catatan BPS, ketiga industri tersebut tercatat mengalami kontraksi pada 2025. Industri kayu dan barang dari kayu terkontraksi -3,29% yoy, industri karet -4,07% yoy, dan industri alat angkutan -2,64% yoy. Penurunan ini mempersempit ruang penyerapan tenaga kerja.

Kontribusi Manufaktur Tetap Dominan

Meski dibayangi kontraksi sektor padat karya, industri manufaktur tetap menjadi penopang utama ekonomi nasional. Kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi masih dominan dibanding sektor lain. Hal ini menunjukkan peran strategis manufaktur dalam struktur ekonomi.

“Padahal ketiganya merupakan sektor padat karya. Maka dari itu, penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur relatif rendah,” tambah Nailul. Ia menilai penyerapan tenaga kerja terbesar justru terjadi di sektor penyediaan makanan dan minuman. Program MBG disebut menjadi pendorong utama.

BPS mencatat industri pengolahan nonmigas atau manufaktur tumbuh 5,15% secara tahunan pada 2025. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11%. Industri pengolahan juga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi tertinggi.

Permintaan Domestik dan Ekspor Menguat

Kontribusi industri pengolahan terhadap pertumbuhan ekonomi tercatat paling besar secara kumulatif. Sektor ini menjadi tulang punggung pemulihan ekonomi nasional pascapandemi. Permintaan domestik dan luar negeri menjadi pendorong utama.

“Jika dilihat dari kontribusi pertumbuhan ekonomi secara kumulatif pada 2025, dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 1,07%,” ujar Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti. Angka tersebut menjadi yang tertinggi selama empat tahun terakhir. Stabilitas industri dinilai semakin kuat.

Amalia menambahkan, pertumbuhan industri pengolahan didorong oleh permintaan domestik dan luar negeri. Industri makanan dan minuman tumbuh 6,39% didukung peningkatan produksi beras, CPO dan turunannya. Kapasitas produksi yang terjaga turut menopang kinerja sektor ini.

Terkini