Harga Minyak

Harga Minyak Global Menguat Akibat Ketegangan Geopolitik dan Pasokan Dunia

Harga Minyak Global Menguat Akibat Ketegangan Geopolitik dan Pasokan Dunia
Harga Minyak Global Menguat Akibat Ketegangan Geopolitik dan Pasokan Dunia

JAKARTA - Harga Minyak Dunia Makin Mahal, AS–Iran Kembali Memanas menjadi sorotan utama pasar energi global dalam beberapa waktu terakhir. 

Ketegangan geopolitik kembali membayangi jalur perdagangan strategis dan mendorong perubahan sentimen pelaku pasar. Kondisi ini langsung tercermin pada pergerakan harga minyak mentah dunia yang menunjukkan penguatan signifikan.

Penguatan harga minyak terjadi ketika perhatian investor tertuju pada faktor risiko di kawasan Timur Tengah. Jalur laut vital yang selama ini menopang distribusi energi global kembali berada dalam tekanan. Situasi tersebut memicu kewaspadaan pasar terhadap potensi gangguan pasokan.

Perdagangan minyak mentah menunjukkan kenaikan lebih dari satu persen pada awal pekan. Minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate sama-sama mencatatkan penguatan harga penutupan. Kenaikan ini menandai perubahan arah setelah sebelumnya pasar sempat bergerak melemah.

Peringatan Pelayaran dan Dampak Pasar

Otoritas Amerika Serikat mengeluarkan peringatan kepada kapal berbendera negaranya terkait jalur pelayaran di sekitar Iran. Kapal diminta menjaga jarak aman saat melintasi Selat Hormuz dan Teluk Oman. Wilayah tersebut secara historis dinilai memiliki risiko keamanan tinggi.

Dalam imbauannya, kapal diminta tetap berada dekat perairan Oman saat bergerak ke arah timur. Langkah ini dilakukan untuk meminimalkan potensi insiden di jalur laut strategis. Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu titik terpenting perdagangan energi dunia.

Sekitar seperlima konsumsi minyak global melewati kawasan tersebut setiap harinya. Gangguan kecil sekalipun dapat berdampak besar pada pasokan dan harga. Karena itu, pasar bereaksi cepat terhadap setiap sinyal peningkatan risiko.

“Premi risiko Iran tidak bisa sepenuhnya dihilangkan selama kapal perang AS masih berada di posisi mereka saat ini,” ujar analis SEB, Bjarne Schieldrop. Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap situasi yang berkembang. Risiko geopolitik dinilai masih melekat kuat.

Perubahan Sentimen Setelah Diplomasi

Sebelumnya, harga minyak sempat bergerak melemah mengikuti sentimen positif dari rencana pembicaraan tidak langsung. Pernyataan kedua pihak sempat memberi harapan meredanya ketegangan. Pasar pun sempat merespons dengan pelemahan harga.

Namun, arah sentimen kembali berubah setelah muncul pernyataan keras dari pihak Iran. Ancaman terhadap pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah meningkatkan ketidakpastian. Situasi ini kembali menempatkan faktor geopolitik sebagai penggerak utama harga.

Dalam beberapa pekan terakhir, kehadiran armada laut AS di kawasan dilaporkan meningkat. Langkah tersebut dipandang sebagai sinyal kesiapsiagaan militer. Pasar menilai eskalasi semacam ini berpotensi memicu gangguan distribusi energi.

Analis minyak UBS, Giovanni Staunovo, menilai kondisi saat ini sulit diprediksi. “Sangat sulit menilai bagaimana perkembangannya,” ujarnya. “Kami memantau dari hari ke hari, sambil menunggu penetapan jadwal putaran kedua perundingan,” tambahnya.

Tekanan Global di Luar Timur Tengah

Selain konflik AS dan Iran, perhatian investor juga tertuju pada dinamika geopolitik lain. Negara-negara Barat terus berupaya membatasi pendapatan Rusia dari ekspor minyak. Langkah tersebut dikaitkan dengan konflik yang masih berlangsung di Ukraina.

Komisi Eropa mengusulkan larangan luas terhadap layanan yang mendukung ekspor minyak mentah Rusia melalui jalur laut. Usulan ini berpotensi mengganggu aliran pasokan global. Pasar menilai kebijakan tersebut dapat memperketat keseimbangan suplai dan permintaan.

Di sisi lain, perubahan sikap pembeli besar juga menjadi sorotan. Kilang minyak di India dilaporkan mulai menghindari pembelian minyak mentah Rusia untuk pengiriman tertentu. India sebelumnya dikenal sebagai pembeli utama minyak Rusia via laut.

Analis Sparta menyebutkan, jika India benar-benar menghentikan pembelian minyak Rusia, dampaknya bisa signifikan. Langkah tersebut berpotensi menciptakan sentimen bullish berkelanjutan. Pasar akan menilai ulang ketersediaan pasokan global.

Pemulihan Produksi dan Arah Pasar

Dari kawasan Asia Tengah, perkembangan produksi minyak juga menjadi perhatian. Ladang minyak raksasa Tengiz di Kazakhstan dilaporkan mulai pulih. Produksi telah mencapai sekitar enam puluh persen dari kapasitas puncaknya.

Target produksi penuh disebutkan berada dalam waktu dekat. Pemulihan ini diharapkan dapat membantu menambah pasokan global. Namun, pasar tetap mencermati apakah tambahan suplai mampu mengimbangi risiko geopolitik.

Secara keseluruhan, pergerakan harga minyak saat ini dipengaruhi banyak faktor. Risiko geopolitik, kebijakan internasional, dan kondisi produksi saling berinteraksi. Kombinasi tersebut menciptakan volatilitas yang tinggi.

Pelaku pasar kini mengambil sikap lebih berhati-hati. Setiap pernyataan dan kebijakan baru berpotensi memicu perubahan harga. Harga Minyak Dunia Makin Mahal, AS–Iran Kembali Memanas pun menjadi refleksi nyata kondisi tersebut.

Dalam jangka pendek, ketidakpastian masih mendominasi pasar energi. Investor terus memantau perkembangan dari hari ke hari. Selama ketegangan belum mereda, harga minyak diperkirakan tetap sensitif terhadap dinamika global.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index