Bank Indonesia

Bank Indonesia Proyeksikan Ekonomi Kalimantan Timur Tumbuh Stabil pada 2026

Bank Indonesia Proyeksikan Ekonomi Kalimantan Timur Tumbuh Stabil pada 2026
Bank Indonesia Proyeksikan Ekonomi Kalimantan Timur Tumbuh Stabil pada 2026

JAKARTA - Harapan terhadap kebangkitan ekonomi Kalimantan Timur kembali menguat menjelang 2026. 

Di tengah tantangan global dan transisi pembangunan daerah, proyeksi terbaru menunjukkan adanya ruang pertumbuhan yang tetap terjaga. Momentum ini menjadi titik penting dalam perjalanan transformasi struktur ekonomi regional yang selama ini sangat bergantung pada sektor tertentu.

Proyeksi Pertumbuhan dan Fase Konsolidasi Fiskal

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur memproyeksikan pertumbuhan ekonomi regional 2026 di kisaran 4,53% hingga 5,3%. Sebagaimana diketahui, angka ini lebih rendah dari capaian hampir 6% pada 2024. 

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Timur, Jajang Hermawan menyatakan penurunan proyeksi terhadap laju pertumbuhan tersebut tidak terlepas dari normalisasi anggaran pembangunan Ibu Kota Negara Nusantara pasca percepatan proyek infrastruktur pada 2024.

Jika pada 2024 merupakan periode akselerasi demi mengejar upacara perdana di bulan Agustus, maka 2025 dan 2026 menjadi fase konsolidasi fiskal yang lebih terukur.

Penyesuaian belanja pembangunan dilakukan agar kesinambungan proyek strategis tetap terjaga tanpa menimbulkan tekanan berlebih pada anggaran. Kondisi ini turut memengaruhi ritme pertumbuhan ekonomi daerah yang sebelumnya terdorong oleh belanja infrastruktur besar besaran.

"Juga kita ada penambahan dari sisi migas, nah, itu dari sektor pengolahan. Dari sektor pertanian juga ada satu kalau enggak salah pabrik kelapa sawit pertanian akan terpusat lalu sebagainya," ujarnya dalam temu media. 

Dia menegaskan bahwa proyeksi pertumbuhan itu disusun dengan mempertimbangkan beberapa variabel krusial, terutama perlambatan ekonomi global yang berdampak langsung pada dinamika domestik.

Tantangan Ketergantungan Sektor Ekstraktif

Sektor batu bara, yang secara historis menjadi tulang punggung ekonomi Kaltim dengan kontribusi signifikan sejak 2010 hingga 2020, kini menghadapi hambatan serius.

Stagnasi harga komoditas di pasar internasional menekan kinerja ekspor dan memengaruhi penerimaan daerah secara keseluruhan. Di sisi lain, pembatasan alokasi produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya secara nasional turut mempersempit ruang gerak pelaku usaha.

Dia mengungkapkan stagnasi harga komoditas di pasar internasional, ditambah pembatasan alokasi produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya secara nasional, telah mempersempit ruang gerak ekspor ke pasar tradisional seperti Tiongkok dan India. 

Ketergantungan pada sektor ekstraktif ini pernah membuat pertumbuhan ekonomi Kaltim terjerembab ke level 2% hingga 3% pada periode tertentu. Situasi tersebut menunjukkan betapa rentannya struktur ekonomi daerah ketika hanya bertumpu pada satu mesin utama.

"Nah that's why, makanya kenapa sangat rendah? Karena memang ekonomi Kaltim itu engine-nya cuma satu, sektor ekstraktif, sorry. Makanya pertumbuhan ekonomi Kaltim di rentang 2010 sampai 2020 itu rendah karena memang sangat bergantung dari tadi, globalnya seperti apa, harga batubaranya seperti apa," katanya. 

Pernyataan ini menegaskan perlunya diversifikasi ekonomi agar gejolak eksternal tidak langsung mengguncang fondasi pertumbuhan daerah. Upaya pembenahan struktur ekonomi pun menjadi agenda penting dalam beberapa tahun terakhir.

Munculnya Mesin Pertumbuhan Baru

Kendati demikian, ada angin segar yang mulai berhembus. Pemerintah Provinsi telah menginisiasi sejumlah proyek strategis yang diharapkan menjadi mesin pertumbuhan baru pada 2026.

Operasionalisasi Refinery Development Master Plan Balikpapan dan Kilang Soda Ash di Bontang diprediksi akan memberikan multiplier effect terhadap sektor industri pengolahan.

Tak pelak, peningkatan produksi migas sebesar 100.000 barel per hari, bersama dengan pengembangan pabrik kelapa sawit, diharapkan mampu mendongkrak sektor pertanian dan manufaktur. 

Penguatan sektor hilirisasi ini menjadi langkah konkret untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal sebelum dipasarkan. Dengan demikian, struktur ekonomi Kaltim secara bertahap dapat bergeser dari ekstraktif menuju industri pengolahan yang lebih berkelanjutan.

Investasi swasta pun mulai berdatangan, termasuk proyek pabrik pakan dan peternakan ayam milik Danantara yang akan memperkuat rantai pasok pangan regional. Kehadiran investasi tersebut membuka peluang kerja baru sekaligus memperluas basis produksi daerah. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada sektor industri, tetapi juga merembet ke sektor perdagangan dan distribusi.

Efek Migrasi dan Penguatan Sektor Jasa

Adapun, Jajang menuturkan gelombang kedua migrasi Aparatur Sipil Negara dari Jakarta ke IKN dan Balikpapan akan menstimulasi sektor perdagangan dan konsumsi domestik. 

Perpindahan ini berpotensi meningkatkan permintaan terhadap hunian, layanan pendidikan, kesehatan, serta berbagai kebutuhan harian lainnya. Aktivitas ekonomi yang tumbuh dari sisi konsumsi diharapkan menjadi penopang tambahan di luar sektor komoditas.

Fenomena ini berpotensi menciptakan efek berantai pada sektor jasa, properti, dan logistik yang selama ini kurang berkembang. Pertumbuhan populasi baru akan mendorong ekspansi usaha ritel, transportasi, hingga penyediaan layanan publik lainnya. 

Dengan kombinasi antara proyek strategis, investasi swasta, dan peningkatan konsumsi domestik, Kalimantan Timur memiliki peluang untuk membangun fondasi ekonomi yang lebih beragam dan tangguh menuju 2026.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index