JAKARTA - Industri smartphone global tengah menghadapi tekanan berat pada kuartal II 2026. Laporan terbaru dari lembaga riset Counterpoint mengindikasikan kemerosotan pengiriman gawai secara global hingga mencapai 11 persen secara tahunan. Anjloknya volume distribusi dari para produsen gawai asal China menjadi penekan utama penurunan sektor ini secara keseluruhan.
Situasi tersebut dipicu oleh keterbatasan pasokan serta penyesuaian biaya komponen utama, khususnya cip memori, seiring masifnya pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Melonjaknya ongkos produksi memaksa para manufaktur merombak strategi pemasaran mereka. Efek domino dari dinamika ini terbilang lumayan terasa di segmen kelas bawah hingga menengah, yang selama ini menjadi tumpuan utama produsen asal China.
"Kenaikan biaya komponen memicu penyesuaian harga di tingkat konsumen, yang pada akhirnya memengaruhi tingkat permintaan pada segmen ponsel terjangkau hingga menengah," jelas Senior Analyst Counterpoint, Shilpi Jain.
Sejumlah merk seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo mencatatkan penyusutan volume distribusi pada periode tersebut. Walau demikian, beberapa varian flagship tetap berupaya keras menjaga ritme persaingan di tengah kondisi pasar yang sangat menantang.
Penjualan iPhone Melonjak Hingga Cetak Rekor Baru Keputusan Apple Inc. untuk tidak menaikkan harga jual iPhone berbuah manis. Raksasa teknologi asal Amerika Serikat tersebut diproyeksikan mencetak rekor lonjakan penjualan kuartalan tertinggi dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
Meski begitu, jajaran investor kini mulai cemas dan mempertanyakan daya tahan Apple dalam meredam gelombang kenaikan biaya komponen global.
Sebelumnya, Apple telah menaikkan label harga pada lini iPad dan MacBook guna menutupi lonjakan biaya produksi akibat kelangkaan cip memori.
Menariknya, Apple memilih untuk mengamankan produk cash cow utamanya, yaitu iPhone. Langkah ini bertolak belakang dengan para rival yang terpaksa membebankan pembengkakan modal langsung kepada konsumen.
Keputusan Berani Menahan Harga Membawa Hasil Positif Strategi yang dieksekusi Apple terbukti manjur. Berdasarkan estimasi Counterpoint Research, volume pengiriman iPhone justru melonjak 3 persen pada periode tersebut, dengan pangsa pasar global mendekati angka 20 persen.
Selain itu, kebijakan Apple untuk tidak terlalu boros mengucurkan modal pada proyek data center AI turut memberi dampak positif. Apple berhasil merebut kembali predikat sebagai perusahaan paling bernilai di dunia dari Nvidia.
Saham Apple pun melesat hingga 25 persen sepanjang tahun berjalan. Kinerja impresif ini sempat mendongkrak nilai kapitalisasi pasar Apple menembus rekor di atas 5 triliun dolar AS pada perdagangan Selasa lalu.
"Awalnya Apple dicibir banyak investor karena dianggap tertinggal dalam siklus investasi AI. Namun saat ini, mereka justru memetik hasilnya ketika pasar mulai mempertanyakan korelasi antara belanja modal raksasa Big Tech dengan imbal hasil investasinya," ujar Dan Morgan, Portfolio Manager Synovus Trust.
Sebagai gambaran perbandingan, Alphabet selaku induk Google sempat mengejutkan publik setelah melaporkan arus kas bebas negatif akibat tingginya belanja modal sektor AI.
Prospek Pendapatan dan Proyeksi Harga Penjualan Berdasarkan konsensus data LSEG, pendapatan Apple diprediksi melonjak 15,5 persen menjadi 108,65 miliar dolar AS pada periode April-Juni. Penjualan iPhone sendiri diproyeksikan meroket hingga 20,8 persen.
Meski demikian, pengamat memperkirakan Apple tidak bakal menahan harga jual iPhone lebih lama lagi. Dan Morgan memprediksi bakal ada penyesuaian harga saat peluncuran lini iPhone baru pada September mendatang.
Namun, pengamat dari Morgan Stanley tetap optimistis bahwa loyalitas konsumen dan ekosistem Apple yang solid sanggup meredam dampak kenaikan harga tersebut.
"Permintaan terhadap produk inti Apple tergolong inelastis, di mana iPhone merupakan produk yang paling tidak sensitif terhadap perubahan harga dalam ekosistem Apple. Artinya, penyesuaian harga mendatang kemungkinan besar tidak akan mengganggu permintaan pasar secara signifikan," tulis laporan Morgan Stanley.