Masuknya Grup Djarum dan Tren 5G Dorong Prospek Saham BACH 2026

Minggu, 02 Agustus 2026 | 23:58:31 WIB
Ilustrasi Saham.

JAKARTA — Akselerasi transformasi digital, ekspansi jaringan 5G, serta tingginya permintaan untuk layanan kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan diprediksi bakal memperkuat prospek bisnis PT Bach Multi Global Tbk. (BACH).

Kondisi tersebut dinilai menjadi pendorong utama pertumbuhan emiten penyedia sarana pendukung telekomunikasi tersebut.

Pengamat Pasar Modal Fauzan Luthsa menyebutkan bahwa daya tarik emiten BACH di mata pemodal bukan hanya dipicu oleh potensi industri telekomunikasi, melainkan juga berkat masuknya Grup Djarum lewat PT Global Teknologi Perkasa (GTP) selaku pemegang saham pengendali.

"Masuknya Grup Djarum memang menjadi katalis yang meningkatkan perhatian investor terhadap BACH. Namun, saya melihat pasar juga mulai memahami model bisnis perseroan secara lebih utuh," ujarnya dalam keterangannya, Sabtu (1/8/2026).

Fauzan menjelaskan, sebagian pelaku pasar sebelumnya menganggap BACH sebatas produsen genset. Padahal, merujuk pada prospektus perusahaan, perseroan telah mengelola sekitar 41.000 site telekomunikasi sehingga memegang peranan penting dalam ekosistem nasional.

"Perseroan menangani sekitar 41.000 site telekomunikasi. Artinya, BACH sudah menjadi bagian dari ekosistem infrastruktur telekomunikasi," katanya.

Ia menilai pergeseran pemahaman investor terhadap model bisnis emiten ini menjadi salah satu penopang minat pasar. Meski demikian, aspek kinerja fundamental tetap menjadi penentu utama valuasi perseroan dalam jangka panjang.

Di sisi lain, Pengamat CORE Indonesia Dipo Satria Ramli memperkirakan peluang pertumbuhan sektor infrastruktur telekomunikasi masih terbuka lebar hingga 3 sampai 5 tahun mendatang. Kebutuhan menara serta jaringan serat optik tetap tinggi seiring lonjakan permintaan dari segmen ritel maupun korporasi.

"Masih besar 3-5 tahun ke depan, kebutuhan untuk tower dan fiber optik masih tinggi karena kebutuhan customer dan corporate yang terus meningkat," ujarnya.

Ia menambahkan, peralihan teknologi dari 4G menuju 5G akan mendongkrak kebutuhan sarana penunjang. Karakter implementasi 5G memerlukan kerapatan menara yang lebih tinggi melalui pembangunan microcells demi menjaga kualitas jaringan.

Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan juga menghadirkan tantangan sekaligus peluang investasi. Dipo menyebut kebutuhan sarana dasar seperti pasokan listrik, menara, jaringan fiber optik, hingga kabel laut akan terus meningkat seiring maraknya penggunaan internet, AI, dan cloud computing.

"Sangat strategis karena mereka adalah penentu keandalan dan keberlanjutan infrastruktur telekomunikasi dan ekonomi digital," katanya.

Dipo juga menyoroti pasokan listrik yang belum merata serta jaringan serat optik yang belum terintegrasi di sejumlah daerah, sehingga peran perusahaan pendukung telekomunikasi menjadi semakin vital.

"Tanpa reliability dari internet dan telekomunikasi, ekonomi digital tidak bisa terbangun," tegasnya.

Secara terpisah, Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Yosef M. Edward menuturkan bahwa keandalan pasokan listrik merupakan aspek mendasar dalam pembangunan Base Transceiver Station (BTS).

"Pemilihan pemasangan BTS yang pertama dilihat ketersediaan sistem daya dan keandalannya. Jadi merupakan prioritas utama dalam pembangunan infrastruktur BTS," ujarnya.

Ia memaparkan bahwa sistem catu daya BTS umumnya menerapkan konsep redundansi guna menjamin kelangsungan layanan. Penggunaan kombinasi listrik PLN dengan genset cadangan, atau perpaduan PLN, baterai, dan genset, memastikan pemancar tetap berfungsi saat terjadi gangguan kelistrikan.

Terkini