Laba Bersih Astra Internasional Turun 19 Persen pada Semester I 2026

Kamis, 30 Juli 2026 | 01:44:31 WIB
Foto Gedung Milik PT Astra International Tbk.

JAKARTA — PT Astra International Tbk. (ASII) mengantongi laba bersih senilai Rp12,53 triliun sepanjang semester I/2026. Capaian ini mengalami penurunan sebesar 19 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp15,51 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan hingga akhir Juni 2026, penurunan kinerja ini dipicu oleh melemahnya kontribusi dari lini bisnis solusi pertambangan dan alat berat. Kondisi tersebut berimbas pada penurunan laba per saham dari posisi Rp383 menjadi Rp313 per saham.

Sementara itu, pendapatan bersih konsolidasian Grup Astra pada paruh pertama 2026 tercatat sebesar Rp157,91 triliun. Angka ini terkoreksi 3 persen secara tahunan dari posisi semester I/2025 yang mencapai Rp162,85 triliun.

Apabila tidak memperhitungkan pos non-recurring items senilai Rp2,35 triliun yang mencakup penyesuaian nilai wajar investasi ekuitas serta penurunan nilai, laba bersih Astra berada di angka Rp14,89 triliun atau terkikis 7 persen secara tahunan.

Presiden Direktur Astra International Rudy mengungkapkan bahwa perusahaan sebenarnya mencatatkan kinerja positif dari sektor otomotif dan jasa keuangan. Walau demikian, pertumbuhan tersebut tertahan oleh tekanan dari lini bisnis pertambangan.

“Penurunan kontribusi dari bisnis solusi pertambangan & alat berat mengakibatkan penurunan laba bersih Grup secara keseluruhan,” ujar Rudy dalam keterangan resminya, Kamis (30/7/2026).

Rinciannya, laba bersih sektor solusi pertambangan & alat berat di luar non-recurring items tercatat sebesar Rp2,70 triliun. Angka ini merosot signifikan dari capaian semester I/2025 yang berada di level Rp5,02 triliun.

Penurunan di sektor ini dipengaruhi oleh minimnya penjualan unit bisnis tambang emas imbas penghentian sementara operasional tambang Martabe di awal tahun, penyesuaian volume produksi batubara akibat alokasi RKAB nasional, serta penurunan penjualan alat berat Komatsu sebesar 27 persen secara tahunan menjadi 1.994 unit.

Di sisi lain, lini otomotif berhasil membukukan kenaikan laba bersih sebesar 9 persen secara tahunan menjadi Rp5,91 triliun berkat dorongan peningkatan penjualan mobil baru serta kontribusi lini komponen.

Penjualan unit mobil Astra tumbuh 10 persen secara tahunan dengan penguasaan pangsa pasar sebesar 51 persen. Sedangkan penjualan sepeda motor Honda menguat 1 persen secara tahunan dengan menguasai pangsa pasar hingga 77 persen.

Untuk lini jasa keuangan, laba bersih terkerek 6 persen secara tahunan menjadi Rp4,64 triliun seiring pertumbuhan nilai pembiayaan baru sebesar 10 persen secara tahunan hingga mencapai Rp61,8 triliun.

Adapun segmen bisnis lainnya seperti agribisnis dan properti sukses membukukan laba bersih senilai Rp1,62 triliun atau melonjak 31 persen secara tahunan.

Pada Mei 2026, Astra menetapkan kerangka strategi korporasi baru yang berfokus pada tiga pilar bisnis utama, yaitu Otomotif, Jasa Keuangan, serta Solusi Pertambangan & Alat Berat, yang disertai perbaikan alokasi modal.

Sebagai wujud penataan alokasi modal, Astra meluncurkan aksi buyback saham baru dengan nilai mencapai Rp8 triliun untuk periode 12 bulan ke depan setelah mengantongi persetujuan RUPSLB pada 17 Juli 2026.

Pada momen bersamaan, anak usahanya yakni PT United Tractors Tbk. (UNTR) turut menggelar program buyback saham baru bernilai maksimal Rp2 triliun dengan jangka waktu pelaksanaan tiga bulan.

Sebelumnya, dalam kurun waktu November 2025 hingga Juni 2026, Astra bersama UNTR telah menuntaskan buyback saham dengan total nilai merealisasikan Rp7,4 triliun. Astra juga telah memulai Management Share Ownership Program (MSOP) sejak Juli 2026.

Rudy menegaskan bahwa perusahaan akan terus berfokus menjalankan strategi korporasi baru guna merespons dinamika serta tantangan dunia usaha.

“Kami yakin terhadap keunggulan operasional, resiliensi, dan kekuatan neraca keuangan Astra, yang didukung oleh alokasi modal yang disiplin dalam menghadapi berbagai tantangan bisnis,” tuturnya.

Melalui langkah strategis tersebut, manajemen ASII berkomitmen penuh untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memberikan nilai imbal hasil yang maksimal dan berkelanjutan bagi para pemegang saham.

Terkini