Inpex Mulai Siapkan Desain Detil (FEED)

0

Jakarta, EnergiKita-Inpex Masela mulai menindaklanjuti pengembangan Lapangan Gas Abadi, Blok Masela. Selain sosialisasi analisa mengenai dampak lingkungan, Inpex Masela tengah melakukan persiapan untuk pekerjaan desain detil atau FEED.

Senior Specialist Media Relations INPEX Masela, Ltd., Moch. N. Kurniawan, mengatakan bahwa Rencana Pengembangan (POD) Lapangan Gas Abadi sudah disetujui pertengahan Juli 2019. Selanjutnya perlu menerjemahkan rencana itu lebih terperinci dalam Front End Engineering Design (FEED) atau desain detil. “FEED memberi gambaran lebih terperinci dibanding pre-FEED yang dilakukan sebelum POD. Sekedar ilustrasi misalnta dalam pre-FEED, desainnya didasari oleh survey di dua titik, desain pada FEED ini didasari oleh beberapa titik sehingga lebih rinci,” ujarnya di sela IPA Convex 2019 di Jakarta.

Pada tahapan FEED ini, saat ini anggaran pekerjaan FEED telah disampaikan ke SKK Migas oleh INPEX Masela.

 

Secara umum, jika anggaran disetujui, akan dilakukan tender untuk menentukan pihak yang akan ditunjuk melakukan pekerjaan FEED. Selepas tahapan FEED, akan diikuti Keputusan Akhir Investasi (FID) dan tahap konstruksi (EPCI). “Kami fokus melakukan tahapan demi tahapan,” ujarnya.

Selain mempersiapkan FEED, INPEX Masela juga mulai melakukan analisa dampak lingkungan (Amdal) proyek LNG Abadi itu. Untuk proyek itu akan dibangun dan dioperasikan sumur gas bawah laut. Akan dibangun dan dioperasikan pula fasilitas SURF (subsea umbilicals, risers and flowlines) dan FPSO (floating production, storage and offloading facilities) di lepas pantai Arafura. Ke depan juga akan dibangun jaringan pipa gas bawah laut dari FPSO ke GRF (gas receiving facility), serta fasilitas kilang OLNG (onshore liquefied natural gas) di darat. Proses Amdal itu diperkirakan butuh waktu dua tahun.

Skema umum proyek LNG Abadi Blok Masela dimulai dengan membuat sumur pemboran bawah laut dan SURF. Tahap itu mengumpulkan gas dari sumur-sumur produksi gas alam di dasar laut pada kedalaman kira-kira 600 meter dari permukaan laut.

 

Dari sana, gas alam akan disalurkan ke FPSO melalui SURF. Di FPSO, gas dan kandungan kondensatnya dipisahkan. Gas kering hasil pemisahan itu dialirkan ke kilang LNG di darat melalui pipa 175 kilometer dan dasar laut sedalam 1.600 meter.

Kilang darat berkapasitas 9,5 juta ton LNG per tahun. Di kilang itu, gas kering didinginkan dengan suhu minus 160 derajat agar bisa menjadi LNG.

Proyek LNG Abadi Blok Masela membutuhkan investasi hingga 19,8 miliar dollar AS dengan perkiraan serapan tenaga kerja langsung dalam proyek berkisar belasan ribu terutama di puncak tahap konstruksi. Pada tahap produksi, jumlah tenaga kerja langsung diperkirakan turun secara alami menjadi ribuan.

Namun, dampak berganda yang lebih besar dari proyek Abadi diharapkan muncul dengan tumbuhnya sektor industri lain seperti manufaktur, dukungan perminyakan, konstruksi, pertanian dan perikanan, hotel, transportasi, dan jasa keuangan. Tumbuhnya sektor-sektor industri ini, berdasarkan hasil kajian LPEM UI dan UNPATTI, akan memberikan Produk Domestik Bruto (PDB) di wilayah Kabupaten Kepulauan Tanimbar, sebagai wilayah operasi INPEX Masela, sebesar akumulasi 90 miliar dollar AS dalam kurun waktu 33 tahun dari masa konstruksi hingga produksi dengan asumsi masa konstruksi dimulai tahun 2022.

Secara nasional, PDB Indonesia akan meningkat dengan tambahan akumulasi 153 miliar dollar AS dalam kurun waktu 33 tahun. Lapangan kerja di berbagai sektor industri ini secara nasional diperkirakan mencapai 70,000 an dalam kurun waktu 33 tahun. (OVI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here