Paradoks Energi Terbarukan di Negeri Sendiri Untuk diekspor

0

[ad_1]

Jakarta, indonews.id – Masyarakat Global dihadapkan dengan masalah genting terkait lingkungan, salah satunya adalah energi terbarukan. PBB telah sepakat menetapkan visi global, salah satu di antaranya yakni untuk melindungi bumi dan lingkungannya. Visi tersebut akan ditargetkan terealisasi pada Tahun 2030 melalui 17 tujuan pembangunan berkelanjutan/ sustainable development goals (SDG).Salah satu dari 17 SDG yakni mencapai energi terjangkau dan bersih. Sebagaimana diketahui bahwa energi saat ini umumnya berasal dari pembakaran minyak, batu bara dan gas alam yang mana berdampak pada pembuangan pembakaran yang menjadi polusi udara. Tidak hanya selesai pada polusi udara yang membuat makhluk hidup terganggu kesehatannya, polusi tersebut membentuk efek gas rumah kaca.Namun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa manusia masa kini membutuhkan energi layaknya kebutuhan primer. Tanpa adanya listrik beberapa jam, manusia masa kini akan sangat kesulitan menjalankan aktivitasnya.

Menarik membahas listrik yang saat ini bersandar pada bahan konvensional seperti minyak dan batu bara. Listrik adalah energi yang cukup bersih namun demikian pembangkit listrik dengan bahan baku minyak dan batu bara berkontribusi besar terharap lingkungan tepatnya polusi udara.Terkait dampak pembangkit listrik dengan bahan bakar batu bara maka perlu mengutip penelitian terkini yang ditulis Bisnis Indonesia. Peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Green Peace Indonesia menyatakan bahwa terdapat indikasi debu hasil pembakaran batu bara Pembangkit Listrik Tenaga Uap di sekitar Jakarta ternyata terbawa angin hingga tersebat di Jakarta.Adapun sisa pembakaran tersebut menambah jumlah polusi udara di Jakarta. Masyarakat menanggung kerugian dari polusi udara tersebut seperti munculnya penyakit infeksi saluran pernapasan, jantung koroner, penyakit paru-paru, asma dan lain sebagainya.Menarik membahas besaran kerugian yang harus ditanggung masyarakat karena polusi udara. Penelitian Penelitian United Nations Environment Programme (UNEP) dan Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) tahun 2016 menyebutkan bahwa masyarakat mengeluarkan biaya Rp 51,2 triliun. Namun demikian, masyarakat dan pemerintah dapat dikatakan belum berhasil dalam langkah masif antisipasi kondisi tersebut hingga saat ini.Pembangkit listrik dari energi yang terbarukan perlu mendapatkan dukungan penuh dalam rangka menghadapi polusi sebagai masalah lingkungan. Sebuah perusahaan di Indonesia telah mampu memberikan produk yang menjadi salah satu solusi permasalahan global tersebut.Salah satunya bernama JSky Energy yang beralamat di Gunung Putri, Bogor memiliki produk berupa Solar panel. Perusahaan yang berdiri sejak 2008 ini mampu memproduksi 100 mega watt solar cell dan 200 mega watt solar modul setiap tahunnya.Solar Panel adalah alat untuk memanfaatkan sinar matahari menjadi listrik. Metode ini dapat mengirit biaya listrik, ramah lingkungan karena tidak terdapat polusi dan tidak terbatas sebagaimana sinar matahari yang menyinari setiap hari di negeri tropis.Pada beberapa negara maju, solar panel sudah populer dan banyak dibutuhkan. Hal tersebut terbukti dari permintaan produk solar panel ke JSky Energy. Beberapa negara tujuan ekspor solar panel buatan anak bangsa ini antara lain Amerika Serikat, Kanada, Finlandia, Jerman, Australia, Jepang dan Singapura. Sebagai contoh, pada Tahun 2018 JSky Energy mendapatkan pemasukan sebesar Rp 220 milyar dari ekspor, terutama Amerika Serikat dan Kanada.Hal yang menjadi ironis adalah kondisi polusi Jakarta dan sekitarnya yang mengkhawatirkan. Pada Juli dan Agustus 2019 bahkan kerap mendapatkan status kota paling parah polusi udaranya di dunia. Padahal, tidak jauh dari Jakarta terdapat produsen pendukung energi terbarukan yang dibutuhkan dan sudah terbukti diakui dunia.Pihak JSky Energy pun menyampaikan bahwa mayoritas penjualan produk solar panel diperuntukkan ekspor. Pasar domestik justru menjadi hal yang sulit bagi JSky Energy saat ini. Hal tersebut menunjukkan bahwa kurangnya kesadaran masyarakat dan pemerintah Indonesia mencapai SDG ke-7.

[ad_2]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here