Puluhan Cekung Migas Menunggu Eksplorasi

0

 

Jakarta, Energikita-Sedikitnya 44 cekungan minyak dan gas bumi Indonesia menanti eksplorasi dan pemanfaatan lanjutan. Kemudahan perizinan investasi menjadi salah satu kunci pemanfaatan yang akan membantu keamanan energi nasional.
Deputi Operasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Fatar Yani Abdurrahman, mengatakan bahwa sudah lama belum ada penemuan cadangan besar di Indonesia. Padahal, di saat yang sama, konsumsi minyak dan gas bumi terus meningkat.”Sekarang yang kita lakukan adalah mempercepat onstream production. Kedua, dari sisi produksi dapat mengandalkan Enhanced Oil Recovery (EOR) dan work over. Kalau kita do nothing, makanya nanti tidak bisa dapat apa-apa,” ujarnya dalam diskusi media bertajuk “Memenuhi Target Energi Primer Hingga 2025”, yang digelar Indonesian Petroleum Association (IPA), di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Diskusi itu bagian dari sosialisasi Pameran dan Konvensi IPA ke-43 Tahun 2019 yang akan diadakan di Jakarta Convention Centre, pada 4-6 September 2019.

Direktur IPA Nanang Abdul Manaf mengatakan, seluruh pemangku kepentingan dan pihak terkait industri migas harus tetap optimistis. Dengan fakta-fakta sekarang, tidak ada cara selain peningkatan eksplorasi. Perlu pula pemanfaatan EOR pada sisi produksi. “Karena migas sudah ada di lapangan tersebut, maka harus dipikirkan bagaimana meningkatkan recovery factor. Kondisi primary sebesar 25-35 persen, berarti masih sisa sekitar 75-70 persen yang harus diangkat. Nah, untuk mengangkatnya diperlukan teknologi,” ujarnya.


Dari 60 basin atau cekungan di Indonesia, lanjut Nanang, saat ini baru sekitar 16 cekungan yang dimanfaatkan. Dia menjelaskan bahwa investor migas sangat berharap penyelenggaraan perizinan untuk investasi di Indonesia dibuat lebih sederhana dan berada di bawah satu payung kelembagaan sehingga terjadi kolaborasi antar instansi yang terkait dan proses perizinan dapat berjalan lebih cepat.
Diakui oleh Nanang, saat ini masih ditemukan adanya kebijakan yang tumpang tindih antara instansi yang satu dengan yang lainnya, termasuk antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Dengan kondisi tersebut, fokus investor mencari migas pun akan terganggu karena ada beban pengurusan perizinan yang bertambah. Pemerintah seyogyanya memahami bahwa investor memiliki pilihan untuk menaruh investasinya di mana, apakah di Indonesia atau negara lainnya.
“Investor global bisa memilih akan berinvestasi di mana. Negara-negara lain juga menginginkan investasi itu. Sebagai investor, kita ingin berhadapan dengan aturan yang simpel, dan satu payung [lembaga] saja,” katanya.

Percepatan
Fatar menambahkan, untuk mempercepat proyek hulu migas diperlukan kecepatan pengambilan keputusan dari KKKS. Pasalnya, lebih dari 20 wilayah kerja (WK) Migas akan dikelola oleh KKKS baru dengan komposisi 60 persen merupakan mature asset. “Sekarang temuan gas kita naik, seperti yang kita lihat di Masela. Begitu juga proyek laut dalam (IDD) yang merupakan potensi besar, dan rencananya sudah berproduksi pada 2025,” tambahnya.


“Hingga 2027 nanti setidaknya ada 42 proyek hulu migas yang akan menambah produksi sebesar 1,1 juta barrel oil equivalent per day (BOEPD). Proyek-proyek tersebut akan mendatangkan investasi senilai USD 43,3 miliar,” jelas Fatar.
Berdasarkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) 2017, kontribusi minyak dan gas bumi untuk energi primer pada 2025 masih relatif tinggi. Bauran energi primer dari fosil sebesar 47% dari migas, yaitu terdiri dari 25 persen untuk minyak dan 22 persen untuk gas bumi.
Masalahnya, dalam RUEN 2017 terungkap prediksi mengejutkan. Berdasarkan RUEN 2019, produksi minyak bumi pada 2019 diperkirakan kurang 600.000 BOPD. Sementara data SKK Migas menunjukkan produksi minyak saat ini masih berada pada angka 759.000 bopd per Juni 2019.
Dari sisi konsumsi, SKK Migas merekomendasikan adanya upaya konversi dari gas menjadi listrik untuk mengurangi impor minyak ataupun BBM ke depannya. Sehingga banyaknya temuan cadangan gas dapat dimanfaatkan secara optimal untuk keperluan domestik. (TYO)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here