Asumsi-asumsi Makro Realistis, Kecuali Pertumbuhan Ekonomi

0

[ad_1]

Jakarta– Sejumlah asumsi makroekonomi yang ditetapkan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2020 dinilai cukup realistis, kecuali pertumbuhan ekonomi yang dipatok sebesar 5,3%.

Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohammad Faisal berpendapat, berbagai asumsi makroekonomi yang ditetapkan dalam RAPBN 2020 cukup realistis, terutama pada asumsi inflasi, nilai tukar, suku bunga SPN 3 bulan, harga minyak, lifting minyak, dan lifting gas bumi.

Namun demikian, dia menilai pemerintah terlalu optimistis pada asumsi pertumbuhan ekonomi dan defisit anggaran. Alasannya, pendapatan negara sulit digenjot ketika ekonomi global masih bergejolak dan dalam ketakpastian karena perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang belum kunjung menunjukkan berakhir.

Menurut dia, target pertumbuhan ekonomi 5,3% pada 2020 akan sulit dicapai jika hanya mengandalkan konsumsi yang diharapkan tumbuh 5% dan belanja pemerintah yang mungkin sulit direalisasikan karena pendapatan yang tidak bisa digenjot. Apalagi, di tengah kondisi industri manufaktur dalam beberapa tahun terakhir cenderung menurun.

Presiden Joko Widodo dalam pidato tentang RUU APBN Tahun Anggaran 2020 beserta Nota Keuangannya, Jumat (16/8), menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 ditargetkan 5,3% dengan konsumsi dan investasi sebagai motor penggerak utama. Sedangkan inflasi akan dijaga pada tingkat 3,1% untuk mendukung daya beli masyarakat.

Asumsi nilai tukar rupiah ditetapkan sebesar Rp 14.400 per dolar Amerika Serikat (AS) dan suku bunga SPN 3 bulan 5,4%. Harga minyak mentah Indonesia (ICP) diasumsikan US$ 65 per barel, dengan target lifting minyak dan gas bumi masing-masing 734 ribu barel dan 1,19 juta barel setara minyak per hari.

Pengamat ekonomi Bhima Yudhistira pun menilai target pertumbuhan ekonomi dalam RAPBN 2020 sebesar 5,3% cenderung ambisius, kurang realistis, dan terlalu tinggi. Implementasi pertumbuhan ekonomi 5,3% pada tahun depan sulit tercapai akibat tekanan eksternal yang luar biasa sebagai dampak perang dagang antara AS dan Tiongkok dan juga kondisi geopolitik di sejumlah negara. “Target pertumbuhan ekonomi dalam RAPBN 2020 masih overshoot,” ungkap Bhima.

Berpendapat senada, ekonom UI Fithra Faisal Hastiadi memprediksi target pertumbuhan ekonomi 5,3% bakal meleset dari target. Bahkan, jika permasalahan mendasar  seperti produktivitas dan neraca transaksi berjalan  tidak ditangani segera, pertumbuhan ekonomi bisa saja di bawah 5%.

Adapun ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, asumsi makroekonomi dalam RAPBN 2020 cenderung optimistis di tengah tren perlambatan ekonomi global yang dipicu oleh kebijakan proteksionisme Amerika Serikat (AS).

Dalam mencapai asumsi pertumbuhan 5,3%, menurut Josua, pemerintah perlu bekerja ekstra dalam mempertahankan daya beli masyarakat, menjaga iklim investasi, serta mendorong produktivitas dan efektivitas belanja pemerintah.

Terkait dengan asumsi inflasi yang berkisar 3,1% pada 2020 cenderung cukup realistis. Pengendalian inflasi harga pangan dinilai semakin baik didukung oleh koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang juga semakin baik.

Mengenai asumsi nilai tukar Rp 14.400 per dolar AS, Josua menilai asumsi tersebut juga sudah mempertimbangkan gejolak di pasar keuangan global yang berpotensi meningkat.

Di sisi lain, Ketua Program Studi Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik FEUI Telisa Aulia Falianty juga menilai asumsi penyusunan RAPBN 2020 sudah cukup realistis di tengah kondisi global yang masih diwarnai gejolak dan ketidakpastian.

Menurut dia, target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3% pada 2020 bukanlah sesuatu yang mustahil untuk direalisasikan dengan kerja keras dari kabinet baru yang segera terbentuk.

“Secara struktural atau fundamental ekonomi serta capaian pembangunan infrastruktur pada tahun ini dan multiplier effect yang ditimbulkannya, target 5,3% pada 2020 bukanlah hal yang mustahil. Angka 5,3% itu cukup realistis, jangan sampai terlalu rendah juga,” kata Telisa.

Telisa Aulia mengatakan, postur belanja dalam RAPBN 2020 juga sudah menunjukkan niat pemerintahan Jokowi untuk memajukan kualitas SDM, di antaranya program yang paling konkret adalah besarnya sasaran penerima beasiswa dan adanya kartu pra-pekerja.

Sementara itu, pengamat pasar modal Reza Priyambada mengatakan, untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,3% pada tahun depan, konsumsi dan investasi harus menjadi motor penggerak utama.

Reza meragukan realisasi target RAPBN 2020. “Pasar hanya akan melihat berdasarkan realistis atau tidak. Kalau tidak realistis, hal itu bisa memicu sentimen negatif,” kata Reza.

[ad_2]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here